JUMAT, KOMPAS - Penampilan pemain film Henidar Amroe pada acara peluncuran lokomotif uap Mak Itam untuk jalur wisata Sawahlunto, Sumatera Barat, pekan lalu, tampak berbeda. Dia mengenakan gaun panjang berwarna putih, rambutnya yang berwarna kemerahan dikucir dua. Ia jadi mirip noni-noni Belanda pada masa lalu.
”Saya sengaja minta Itang Yunaz merancang baju ini. Baju yang modelnya jadul (zaman dulu), sesuai tema peluncuran lokomotif hari ini,” ujar Henidar, yang baru menginjakkan kaki di Sumbar, kampung asal ayahnya.
Sang perancang lalu membuatkan gaun berwarna putih dan panjangnya sampai semata kaki, untuk menggambarkan masa kolonial, bagi perempuan berusia 47 tahun ini. Tema yang dirasakannya pas dengan suasana kota tua Sawahlunto, kota yang ”hidup” manakala tambang batu bara berjaya sejak akhir abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20.
Namun, tidak seperti gaun yang dipakai noni-noni Belanda zaman dulu, pakaian Henidar yang antara lain bermain dalam film Eliana-Eliana, Mirror, dan Mereka Bilang, Saya Monyet! ini disesuaikan dengan kondisi kini, terutama udara panas yang bikin orang kegerahan. Maka, bahannya pun dipilih linen dan lengan bajunya sampai sebatas siku saja.
Henidar Amroe
KARIER
Setelah mengurangi aktivitasnya di dunia modeling, Henidar mulai merambah ke dunia seni peran. Ia mengawali debutnya di dunia film dengan bermain film Pengantin Remaja II (1982), produksi PT Sukma Putra Film, yang disutradarai oleh Sandy Suwardi Hassan, dengan pasangan main Ikang Fawzi (yang juga baru untuk pertama-kalinya main film).[1] Henidar juga sempat bermain dalam film Kulihat Cinta di Matanya (1985). Setelah industri perfilman bangkit lagi, Henidar juga ikut meramaikannya dengan turut bermain dalam Petualangan Sherina (2000), Eliana, Eliana (2002), Gie (2005), Love is Cinta (2007).
Meski tak lagi sering tampil di catwalk, Henidar tetap eksis di dunia yang membesarkan namanya, yaitu modelling.


