Henidar Amroe


KARIER

Setelah mengurangi aktivitasnya di dunia modeling, Henidar mulai merambah ke dunia seni peran. Ia mengawali debutnya di dunia film dengan bermain film Pengantin Remaja II (1982), produksi PT Sukma Putra Film, yang disutradarai oleh Sandy Suwardi Hassan, dengan pasangan main Ikang Fawzi (yang juga baru untuk pertama-kalinya main film).[1] Henidar juga sempat bermain dalam film Kulihat Cinta di Matanya (1985). Setelah industri perfilman bangkit lagi, Henidar juga ikut meramaikannya dengan turut bermain dalam Petualangan Sherina (2000), Eliana, Eliana (2002), Gie (2005), Love is Cinta (2007).

Meski tak lagi sering tampil di catwalk, Henidar tetap eksis di dunia yang membesarkan namanya, yaitu modelling.

Minggu, 29 September 2013

The Amazing Power Of Being Thankful

September 27'2013 Assalamualaikum wr wb Halo semua pembaca blog pribadi saya...semoga kalian semua selalu sehat, bahagia, selamat dunia akhirat, berkelimpahan dalam keberkahan dan karuniaNya, senantiasa positif rasa, positif fikiran, dan dikabulkan semua doa2 dan impian2nya oleh Tuhan YME ...AMIN YRA Pagi ini saya bangun jam 3.00 pagi, kemudian saya meditasi kesehatan, dilanjutkan rutinitas spiritual yang biasa Shalat Subuh. Lalu saya mulai sarapan pagi, segelas teh jahe panas manis, pepaya potong, juice apel dgn wortel. Lalu nasi goreng, dgn telor mata sapi dan tumis brokoli setengah matang. Diantara waktu dini hari sampai subuh itu saya menulis di laptop saya secara rutin kebiasaan rutin saya, setiap hari, yaitu menulis "SYUKUR". Biasanya saya menulis sepagi mungkin untuk menulis syukur, setelah shalat subuh atau setelah shalat sunah tahajud, sebelum waktu shalat subuh. Saya sedang membiasakan diri selalu ingat untuk bersyukur atas semua karunia dan keberkahan yang telah Allah limpahkan kepada saya. Karena kita tidak punya kebiasaan menghitung dan mengingat karunia, alias tidak terbiasa untuk bersyukur. Bahkan akhirnya kita lebih sering mengeluh, mengkritik, ngomel2, marah2, jadinya segala hal yang buruk kita hitung2 dan ingat2, lupa dengan keberkahan yang sudah kita terima sepanjang hidup. Kenapa saya menulis "SYUKUR" setiap hari, karena saya ingat janji Allah dalam firmanNya dalam Al Qur'an Nur Kariim, yang berbunyi: "Barang siapa yang pandai mensyukuri nikmatKu, makan akan Aku tambahkan. Namun barang siapa yang mengingkarinya, maka akan Ku azab". Jelas sekali jika kita bersyukur terus akan nikmat, karunia, keberkahan maka Allah akan tambahkan nikmatNya. Namun sebaliknya jika kita mengeluh ini, itu, uang yang tidak cukup, fisik yang tidak sempurna, makanan yang ga enak, rumah yang tidak dimiliki, pasangan yang nyebelin, anak2 yang nakal, jalanan yang macet, para pemimpin negara yang tidak becus, atau kecaman2 lain, cuaca panas, banjir, harga2 pada naik, mahal, gosip ini itu baik kenal maupun tidak kenal, dll...maka hal2 tsb akan bertambah besar, bertambah buruk, bicara tentang keburukan akan bertambah buruk. Bicara kebaikan/syukur maka akan bertambah besar kebaikan itu. Merubah kebiasaan buruk perlu tekad yang kuat, kebiasaan baik tinggal ditingkatkan. Tanpa kita sadari sering kali kita hidup dalam area yang tidak kita inginkan, dan kita bingung kenapa hal tersebut terjadi pada kita, bahkan sering kali terjadi berulang-ulang, sampai membuat kita stress atau putus asa atau bahkan marah kepada Tuhan, menyalahkan Tuhan baik secara gamblang atau dengan cara yang halus. Ada satu kasus yang baru saja terjadi sore tadi, ketika saya sedang ngobrol di telphone dengan salah satu keluarga, dia mengatakan bahwa dulu dia suka iri dan marah atas kesuksesan dan kekayaan orang lain, dan membuat dia merasa rendah diri. Namun dia seorang perempuan yang solehah, semua dia larikan dengan ibadah. Dia mengatakan bahwa pasti hidupnya selalu pas2an karena ibadanya yang kurang, sehingga Tuhan belum memberi/mengabulkan apa yang diminta/yang dia mau, yaitu kekayaan! Perempuan solehah ini tanpa disadarinya sudah menyalahkan Tuhan atas kehidupannya yang pas-pasan itu, hingga dia berumur 64 tahun dia masih belum bisa memiliki mobil, walau 1 sepeda motor sekalipun dia tidak punya....Ketika saya jelaskan bahwa dia menyalahkan Tuhan, dia bilang tidak, justru dia sadar bahwa dia merasa Allah belum memberi permohonannya karena dia kurang ibadahnya. Secara halus dia mengatakan Tuhan menghukumnya dengan tidak mengabulkan doa2nya. Dia bersikeras bahwa dia tidak menyalahkan Tuhan. Padalah dia sedang menyalahkan Tuhan, kenapa Tuhan disalahkan? Tuhan itu Maha Mengabulkan, semua permintaan dikabulkanNya, baik cepat atau butuh waktu yang lebih panjang. Itu janjiNya, ada firman Allah mengatakan itu dalam Al Qur'an. Saya lupa surat dan ayat berapanya, tetapi Insha Allah saya akan cari dan akan saya tulis surat apa dan ayat brp, juga bunyinya... Kenapa perempuan itu menyalahkan Tuhan dia sadari atau tidak? Kenapa kita selalu mencari kesalahan diluar diri kita? Apakah pernah bertanya pada diri sendiri, salah saya apa ya atas kejadian ini? Kenapa dia tidak bertanya, apa salah saya hingga saya hidup selalu pas-pasan? Tanpa kita sadari kita sering kali kita punya fikiran-fikiran dibawah sadar kita, yang membuat kita menjadi seperti itu (hal yang tidak kita inginkan). Mungkin sering mendengar atau pernah mendengar kalimat ini, "Kata2mu adalah doamu!". Sebelum menjadi kata, pasti sudah difikir dulu, lalu dirasa (kalau menyadari), baru kemudian lahir menjadi kata-kata. Maka buah fikiran, perasaan, dan kata-kata adalah doa. Jika kita mengulang - ulang kata2, fikiran dan perasaan maka itulah yang akan dikabulkan oleh Allah, Tuhan YME Dear pembaca blog saya, saya stop dulu sampai sini yaaa... Insha Allah saya sambung lagi segera... Terima kasih atas waktunya sudah menyempatkan untuk membaca tulisan2 saya Salam :)

Makan Sehat Ala Henidar Amroe & Resep Asinan Ala Henidar Amroe

Bismillahirohamnirohim Assalamualaikum Warahmatullah Wabarokatuh Sekarang 26 September'2013 Ini pertama kali saya menulis langsung blog pribadi saya ini. Jujur saya tidak tahu mau nulis tentang apa saja. Saya tanya sama keponakan saya, dia jawabnya, seperti menulis waktu masih sekolah SD itu loh "Hari ini saya pergi ke rumah nenek" hahaha, dia ketawa, padahal saya serius. Ok tapi paling tidak saya memahami maksud dia, bahwa semudah itu menulis blog pribadi. OK OK saya mulai menulis tentang...ehmm apa yaaaa...hahahaaa tetep aja bingung... :D Bagaimana kalau saya menulis tentang berat badan...! Nah ini adalah masalah kebanyakan wanita, bahkan pria juga... Alhamdulllah saya berat badannya termasuk kurus, berat saya saat ini sekitar 58kg, dengan tinggi 168cm. Banyak teman-teman saya bertanya kok bisa sih berat badan stabil terus begitu, makannya apa, bagaimana pola makannya, olah raganya apa, dll pertanyaan yg datang. Saya memang termasuk orang yang bukan pemakan segalanya, bukan maksud saya rewel kalau makan, tapi saya bukan tipe orang yang suka mengemil, tidak makan cake2 yg uenak2 itu, bukan tidak makan, tapi jarang2 sekali, kalau makan juga sedikit saja, 1 potong sudah lebih dari cukup, kalau kebanyakan malah mual. Es krim juga biasa2 aja, kue2 lain, coklat, crakers, ciki2an, baso, mie instant, golongan2 itu bukanlah makanan yang sering saya konsumsi. Saya sangat suka NASI, hehee untuk kebanyakan orang nasi dihindari, kalau saya tidak mungkin hidup tanpa nasi :D Soal jam makan saya tidak takut untuk makan di tengah malam sekalipun. Ya saya kalau mau makan saya makan, tapi lucunya, kadang2 walau lapar saya malas makan, kalau makanannya tidak selera, atau karena saya sudah sikat gigi walau baru jam 8.00 - 9.00 malam. Saya senang dengan makan2an yang segar, sayur setengah matang, misal, Brokoli hanya ditumis dgn bawang putih, tanpa air, sebentar saja sebelum brokoli menjadi empuk sudah diangkat, pokoknya rasanya harus renyah, krauk2 kalau dimakan. Begitu juga dengan sayur2 lain, keculai sayur2 yang memang harus dimasak empuk, seperti kentang, wortel (juga tdk sampai lembek sih), dll. Saya akan berbagi pola makan saya, semoga ada manfaatnya bagi orang banyak yg membaca, dan bisa menurunkan berat badannya ...AMIN :) Pagi: Bangun tidur jam 4 pagi, minum air putih yang banyak. Setelah shalat subuh dan ritual lainnya (misal, meditasi), sekitar jam 5.30/6 pagi, juice pepaya, wortel+apel, teh jahe manis panas (favoritku, wajib tiap pagi, kalau gak rasanya hidup ada yang kurang hahaa), 30 menit kemudian baru makan nasi secukupnya (kalau kebanyakan juga jadi ngantuk lagi), dengan sayur hijau bisa brokoli atau sawi hijau atau buncis atau bayam, lalu telor mata sapi (jarang tapi), tahu/tempe goreng. Atau ayam goreng, atau dada ayam tumis pake bawang putih, bawang bombay, kecap asin, minyak wijen, saus tiram, kecap ikan dan sedikit kecap manis . Itulah menu pagi hari saya..oiya atau nasi goreng sehat, pakai banyak sayur kol mentah dan tomat mentah sebagai kawannya, dan pasti saya lahap memakannya, karena ada sayur2an mentah itu :))) Siang: Makan siang saya harus makan nasi lagi, atau boleh juga sih makan spageti. Yang harus ada adalah sayur hijau, wajib itu...direbus saja juga bisa, jadikan lalap, saya bisa makan lalap tanpa sambel, atau makan salad. Jadi makan nasi dengan lauk, bisa ikan, atau ayam, secukupnya, saya jarang makan berlebihan, ayam kalu kecil 1 atau 2 potong, kalau ikan kembung 1 ekor cukup, atau paling tambah 1/2 ekor kalau kurangi nasi, tapi kalau sayur saya makan sebanyak-banyaknya (saya penggemar sayur, terutama sayur2 mentah/asal matang, saya suka dengan rasanya yang segar dilidah saya :)). Air putih kalau teman makan siang. Tapi selama makan saya jarang sekali minum, kalau tidak seret atau sangat haus, karena katanya sebaiknya kalau makan jangan sering2 minum. Malam; Makan nasi, lauk, sayur dan buah 1 atau sepotong. Idealnya makan buah sebelum makan nasi. Kenapa? Karena buah mudah dicernanya, kalu nasi lebih lambat. Jadi kalau kita makan buah dulu, buah akan mudah keluar untuk esok paginya, dari pada makanan2 yang padat, yang mungkin ada yang belum tercerna dengan baik. Sehingga ketika BAB buah yang sudah jadi ampas mudah keluar lebih dulu, tidak tertahan oleh makan2an yang belum tercerna. Diantara waktu2 makan itu, saya isi dengan minum air putih. Saya minum 1 - 2 liter air/ hari termasuk air pada saat makan. Air teh tidak dihitung, karena menurut penelitian, air teh justru menyerap air ditubuh kita. Maka sebaiknya kalau habis minum air teh, diganti dengan segelas air putih. Saya juga suka dengan asinan, jadi kalau sedang ada dirumah, sore2 atau malam2 setelah makan nasi, saya suka makan asinan, yang selalu tersedia di kulkas. Isi Asinan Ala Henidar Amroe: 1. Kol diiris halus 2. Toge dibersihkan ekornya 3. Ketimun diiris kecil2 4. Bangkuang diiris kotak2 kecil Kuah Asinan Ala Henidar Amroe ;) 1. Cabe merah besar buang biji 2. Gula merah secukupnya 3. Asem jawa secukupnya 4. Garam secukupnya 5. Air banyak (sesuaikan dgn banyaknya sayur dan bumbu, hampir sama spt membuat sayur asem banayaknya kuah) Cara membuat: Semua bumbu diulek halus, lalu di masak sampai didih.... Sayuran bisa dipisah saja, ketika akan memakannya baru disiram dengan kuah asinan. Jika suka sayuran menyerap dengan kuah, dan jadi agak layu, boleh sayur dicampur kuah dan diamkan dikulkas jika ingin memakannya dingin2. Sangat sederhana tapi sangat sehat..silahkan mencoba :) Tungguh resep2 lain ala Henidar Amroe ... Insha Allah

Jumat, 22 Mei 2009

Taking Things in Stride




Henidar Amroe is one of that rare breed: a model who makes a successful transition to acting. She talks to Bruce Emond about changes in the modeling world, choosing her film roles (and the one that got away) and her political aspirations.



(The Jakarta Post)

Henidar Amroe’s angular Eurasian looks made her one of the top local models in the late 1980s. They also helped her corner the market as the queen of mean in TV soap operas for many years, she of the pursed lips and arched eyebrows plotting yet more intrigue.
Eventually, she says, she grew tired of the typecasting.
“I stopped for three years because I wanted to be the protagonist, not the antagonist,” says Henidar, who continued to take the occasional made-for-TV movie. “They [producers] told me, ‘the soap will be a booming success if you’re the antagonist, but nobody wants to see you as the protagonist’. I didn’t like that, but nobody wanted to do it.”
She also had a few roles in a couple of big-screen movies, including Petualangan Sherina (Sherina’s Adventure, released in 2000) and the critically acclaimed Eliana Eliana (2002). She decided to end her hiatus with a role in a feature film, the controversial Virgin, in 2004.
It was an uneasy return, she says, but it had nothing to do with the subject matter of three precocious teenage girls and their sexual awakening, or her role as the emotionally disconnected mother of one of them. But it was a turning point in her career.
“At first it was like driving again and being caught in a traffic jam, that feeling of confusion. I felt like, what do I really want to do in the Indonesian film industry?”
She says she has found the answer today in carefully choosing parts that work for her. Last year was a breakout year for her with her role as the grotesquely overbearing mother figure in Mereka Bilang Saya Monyet (They Call Me Monkey). In one very “Mommie Dearest” moment she forces her prepubescent daughter to eat the dregs of food she has just vomited into the toilet.
Henidar received the best supporting actress award at the Indonesian Movie Awards for her performance, with the movie named among the year’s best by both Tempo and The Jakarta Post.
On the night of the interview, she is carefully coiffed and stunning in readiness for the wrap party for her new movie, Terowongan Rumah Sakit (Hospital Corridor), filmed in the darkly evocative corridors of the Bank Mandiri Museum in Kota, West Jakarta.
“The story is as with most horror movies, but then it’s different, too, because the director can make a horror movie on a low budget without it looking cheap.”
Now in her mid-40s, Henidar was one of 10 children of a Padang father and a mother who is mixed Javanese-Sundanese (there also is English ancestry in her family). Raised in Bogor, she moved in her teens to Jakarta and was encouraged by an older sibling to model (she also made a couple of teen flicks in the early 1980s). Although her father initially disapproved of her career choice, by the 1990s she was known for her cool, almost patrician demeanor on the catwalk, literally able to take anything in stride.
Designer Edward Hutabarat remembers Henidar preparing to walk down the runway during a show at a hotel, when suddenly scaffolding started falling down around her. “She waited until it had all stopped, and then she stepped over it and continued on,” he says with a chuckle.
Henidar would do up to four shows in a day, sometimes shuttling between gigs in a very unglamorous motorized pedicab. It was a simpler time, but not necessarily better.
“Oh, I’d choose today,” she says when asked which period she would rather have modeled in. “I used to get paid Rp 25,000 a show. And I think it’s more open, I think [to different types of looks]. Somebody like Kate Moss, who is only 172 cm, a little bit taller than me, can be a top model. A friend used to say to me that I could have gone international if only I were taller.”
Acting provided another extension in her career. She says her acting is based on feeling, on trying to understand the depths of her character, and she admits to being a perfectionist – “I always feel I can do 1,000 times better.”
She is also someone who never wants to let others down.
“I don’t want them to say, ‘Ah, that Henidar ...’ If someone has shown trust in me, then I want to do the very best for them.”






A scene from Mereka Bilang Saya Monyet

Henidar was conflicted about taking the role in Mereka Bilang Saya Monyet. “I knew it was the script I had been waiting for so long,” she says. “It was sinting [crazy], that’s one of my favorite words. It read like a foreign movie.”
But there was the sometimes shocking sexual content to consider, as well as the pressure that would come with performing for writer-director Djenar Maesa Ayu in a very personal and powerful project.
“Djenar told me that she couldn’t force me to do something I didn’t want to do ... But Djenar is such a unique talent that I wanted to be a part of it,” says Henidar, who adds that she watched several Hollywood movies to capture the emotional turmoil of her character.
“I had her in mind when I wrote the screenplay,” says Djenar. “As an actor, she contributes a lot, she is serious about her craft and takes direction easily.”
Hesitation cost Henidar another prime role in 2007. She was offered the part of Tante Mona, the lonely and lustful older woman in Quickie Express – a Mrs. Robinson character transplanted to the Jakarta suburbs. The notorious piano scene, where Tante Mona slides under the piano to tickle more than gigolo Tora Sudiro’s keys, made her have her second thoughts.
Eventually, as Henidar took her time, the role went to Ira Maya Sopha.
“At first I was upset, but Dimas [director Dimas Djayadiningrat] told me that people said I was too beautiful for the role, that I wasn’t matronly enough. At least that was something.”
Henidar has never married and has shunned the glare of the infotainment media. So it seems out of character for her to enter the political sphere, which she is doing as a candidate for the National Mandate Party in Central Java (some wags have dubbed the political party, known by its Indonesian initials PAN, as the “National Artists Party” for its several legislative candidates from the entertainment world).
“When I received the offer from PAN, I thought perhaps this is where I can do something for the people,” she says. “As an artist, I entertain and that is the limit of what I do. In politics I can be a representative of the people ... Sometimes I don’t want to read the papers or watch TV because of the things that are happening. As a representative of the people I can do something to make people’s lives better.”